K O P I M A L A M

OPINI

Oleh : Ujung Pena: Elia Sunarto

 

SEGELAS KOPI kemarin malam, dibawah terang lampu LED 15 watt telah menjadi peredam percik api dalam sekam, kasak-kusuk nyamuk-nyamuk liar. Kata Wak Minto, “Nalar dan akal sehat memenangkan percaturan”. Ini mengingatkan aku pada sosok barista cantik berseragam kuning-hitam.

Ini cerita, tamu malam di sebuah rumah warga. Seru-seruan medio Maret 2025. Orang menduga bakal ada adu mekanik, “Ndak bro, semua langkah sudah dikancah dan terukur. Tak ada drama sembilu menyayat tanpa mata.”

Sebuah pesan buat mereka yang belum pernah tertindas. “Kami kasih paham, bahwa kami bukan ras yang senang memanfaatkan situasi. Mentang-mentang jelang perayaan tahunan yang butuh amunisi besar lalu kami cari-cari, gitu?”

“Itu bukan cara kami! Kami sadar, ada gerombolan anjing liar yang siap dan sewaktu-waktu bisa kembali menerkamku, atau lawan kami untuk dijadikan mangsa.”

Belajar dari Perang Jawa yang dikobarkan Pangeran Diponegoro pada 1925-1930, atau runtuhnya Konstantinopel di tangan Kesultanan Ustmani (Kekaisaran Ottoman) pada 29 Mei 1453 yang menandai akhir Kekaisaran Bizantium (Romawi Timur) dan permulaan era baru sejarah Eropa dan Timur Tengah. Ternyata untuk memenangkan sebuah pertempuran perlu strategi jitu.

Yakinlah, semua akan menyukai hasilnya, tapi tidak semua memahami prosesnya. Untuk diingat, podium ini dibuat bukan untuk orang yang hanya latihan 3x seminggu. Kadang orang sering berdalih, tanya legal standing. Satu pesan yang harus kau simpan dalam benakmu. Jangan malu punya pelatih yang tidak berlisensi.

“Masih ada harapan,” bisik teman ngopi malam ini sambil sruput dua tiga kali tegukan, kopi tandas tinggal endapannya. Satu kelebat hewan nokturno mengejutkan kami. Mengakhiri pergunjingan, sebuah catatan perlu ditorehkan. Segelas kopi malam ini, mengakhiri ambigu. (***)

Catatan MGA, 24 Maret 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *